
BENGKULU — Bagaimana jika setiap langkah kaki saat berjalan bisa menghasilkan energi listrik? Gagasan tersebut diwujudkan sekelompok mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) melalui inovasi E-WALK, sepatu pintar yang mampu memanen energi dari aktivitas berjalan.
E-WALK dikembangkan sebagai inovasi teknologi ramah lingkungan yang mengubah energi mekanik dari tekanan langkah kaki menjadi energi listrik. Energi yang dihasilkan kemudian disimpan dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya portabel.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026. Tim E-WALK diketuai Dia Komalla, bersama anggota Muhammad Rezki Maulana, Okti Felina Anggraini, dan Rahmat Dzaki Rizja, di bawah bimbingan Dosen Pendamping Agung Kharisma Hidayah, M.Kom.
Ketua tim, Dia Komalla, mengatakan ide E-WALK berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil serta dampak lingkungan yang ditimbulkan pembangkit listrik konvensional.
Menurutnya, aktivitas berjalan sebenarnya menghasilkan energi mekanik yang cukup besar, tetapi belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
“Energi dari langkah kaki manusia sebenarnya melimpah, tetapi selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dari situ kami berinovasi menciptakan sepatu yang bisa menghasilkan listrik hanya dari aktivitas berjalan,” ujar Dia.
Secara teknis, E-WALK memanfaatkan transduser piezoelektrik multi-lapis yang dipasang pada bagian sol dalam sepatu. Ketika pengguna berjalan, tekanan yang muncul pada setiap langkah akan menghasilkan energi listrik.
Energi tersebut kemudian melewati rangkaian penyearah daya sebelum disimpan sementara dalam superkapasitor yang ditempatkan pada bagian lidah sepatu. Selanjutnya, energi digunakan untuk mengisi baterai Li-Po yang dapat dilepas-pasang.
Setelah baterai terisi, energi dipindahkan ke power bank kit untuk digunakan sebagai sumber daya cadangan.
Menariknya, hasil uji coba awal menunjukkan energi yang tersimpan mampu menyalakan kipas portabel. Temuan tersebut menjadi indikator awal bahwa energi yang dipanen dari langkah kaki melalui E-WALK dapat menghasilkan daya yang fungsional untuk kebutuhan perangkat elektronik sederhana.
Tim E-WALK telah menyelesaikan prototipe melalui tiga tahapan utama, yakni perancangan alat dan sistem, desain sistem, serta pembuatan prototipe fisik.
Sejumlah komponen elektronik, seperti piezoelectric disc, modul energy harvesting, superkapasitor, hingga mikrokontroler berbasis IoT, telah dirakit dan diintegrasikan ke dalam sepatu serta unit power bank kit terpisah.
Muhammad Rezki Maulana, anggota tim yang bertanggung jawab pada tahap perancangan alat, mengatakan prototipe tersebut telah mampu menjalankan alur dasar sistem, mulai dari menghasilkan listrik saat sepatu digunakan berjalan, menyimpan energi, mengisi baterai, hingga menyalurkan energi ke power bank kit.
"Bahkan saat kami uji coba, energinya sudah cukup untuk menyalakan kipas portabel. Ini jadi bukti awal bahwa sistem kami benar-benar bekerja,” jelasnya.
Dosen Pendamping E-WALK, Agung Kharisma Hidayah, M.Kom., mengapresiasi capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi E-WALK memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu solusi energi alternatif, terutama bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi atau berada di wilayah dengan akses listrik terbatas.
E-WALK dinilai berpotensi dimanfaatkan oleh traveler, pendaki gunung, pekerja lapangan, hingga masyarakat di daerah yang belum mendapatkan akses listrik secara memadai.
Meski prototipe telah berhasil menghasilkan energi dan menjalankan fungsi dasarnya, tim E-WALK masih akan melakukan pengujian serta evaluasi performa.
Tahap berikutnya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi konversi energi sekaligus menyempurnakan kenyamanan penggunaan sepatu sebelum tim menyusun laporan akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah dalam program PKM-KC Tahun 2026.
Melalui E-WALK, mahasiswa Teknik Informatika UMB tidak hanya menghadirkan sebuah prototipe teknologi, tetapi juga menawarkan gagasan bahwa sumber energi alternatif dapat ditemukan dari aktivitas sederhana yang dilakukan manusia setiap hari—bahkan dari setiap langkah kaki




